Mungkin malam ini, aku akan melakukan percobaan AP dengan pendekatan yang berbeda. Aku banyak memikirkan percobaan – percobaan sebelumnya. Back To Basic, sebuah pola yang biasa kulakukan bila terlalu lama menemui jalan buntu. Akan kucoba melakukan semuanya hanya dengan affirmasi saja. We’ll see what happens
Senin, 18 Oktober 2010
A Different Approach
Minggu, 17 Oktober 2010
My Saturday Night AP Attempt
Walaupun pada latihan ini aku tidak berhasil sampai exit sepenuhnya, tetapi ada beberapa hal yang tentang dasar² AP yang telah kuremehkan sebelumnya.
Yang pertama adalah:relaksasi itu vital, dan aku harus terus berada dalam posisi pasif untuk dapat mencapai kondisi otak meditatif. Sebelum latihan tadi malam itu, selama latihan, otakku selalu dipenuhi dengan rencana², rasa takut, rasa ingin tahu dan sebagainya. Hal ini menyebabkan aku tidak dapat mencapai tahap relaksasi sepenuhnya.
Latihan AP itu sifatnya meditatif, ketika kita latihan, yang kita teliti dalam latihan itu adalah diri kita sendiri. Dari situ kita bisa mengetahui sifat² dari diri kita yang,
terkadang, luput dari perhatian kita sehari – hari. Dan dalam latihanku semalam itu, aku diingatkan kembali betapa sifat ketergesaanku yang sangat tinggi serta ketidaksabaranku, sangatlah terlihat jelas.
Dan untuk yang kedua, visualisasi, selama ini, aku latihan tanpa banyak melakukan visualisasi, karena mungkin terlalu occupied dengan tehnik phasing yang baru kucoba beberapa malam terakhir ini.
Pada latihan AP semalam itu, dalam kondisi hypnagogia, atau lebih dikenal sebagai fase diantara tertidur dan sadar, dalam benakku terbayang gambaran sebuah bola. Dan entah kenapa, gambaran tersebut terus muncul walaupun ku acuhkan. Ketika aku terus memfokuskan pikiranku pada bola tersebut, bola itu berubah semakin lonjong, ketika aku coba untuk menarik kedua ujung bola tersebut (dalam pikiran tentunya), badanku bergetar mengikuti tarikan tersebut.
Masih belum terpikirkan olehku mengapa tiba² muncul gambaran bola tersebut, namun satu hal yang bisa kupelajari disini, dalam fase antara tidur dan terjaga itu, perlu dilakukan visualisasi sebagai penguat affirmasi kita. Dan aku rasa bentuk visualisasi itu bisa dibuat oleh kita sendiri sesuka hati.
Jumat, 15 Oktober 2010
Kamis, 14 Oktober 2010
Astral Projection: Belajar Sendiri vs Didampingi guru
Ada beberapa orang yang berpendapat, bahwa AP itu berbahaya jika tidak didampingi oleh seorang ‘guru’ atau pembimbing yang berpengalaman dalam hal AP. Mengenai benar atau tidaknya pendapat ini, semua dikembalikan kepada orang² tersebut, jika memang mereka merasa kalau perkembangan mereka akan melaju pesat dibawah bimbingan seseorang, maka sebaiknya mereka segera mencari dan belajar kepada orang yang mereka anggap mampu untuk melakukannya.
Namun menurutku, tidak semua hal yang kita pelajari dalam hidup ini kita peroleh dari orang lain. Aku merasakan sebuah rasa kepuasan yang dicapai jika berhasil melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Aku mendapatkan banyak pengalaman berharga dalam proses pencarian metode yang cocok buatku sendiri, aku memahami makna kegagalan karena telah kurasakan sendiri, bukan karena larangan dari orang lain.
Namun, dalam pandangan yang lebih objektif, sebenarnya dengan atau tanpa pengajar, masing² memiliki kelebihan dan kekurangannya. Jika seseorang memilih untuk belajar dibawah bimbingan seseorang, tentunya orang tersebut memiliki keuntungan dengan adanya ‘kurikulum’ yang sudah diuji oleh sang pengajar. Namun, disisi lain, orang tersebut hanya mempelajari sesuatu yang sudah dipelajari terlebih dahulu oleh gurunya, sudut pandang orang tersebut (mungkin) hanya dibatasi oleh kegagalan dan kesuksesan belaka. Opsi ketiga, eksplorasi, mungkin tidak akan muncul dalam benaknya.
Dalam belajar sendiri, seperti yang sudah kuungkapkan sebelumnya, bagiku penuh dengan tantangannya sendiri, dan aku mendapatkan pemahaman yang (mungkin) berbeda dengan orang lain mengenai apa yang sedang kupelajari ini. Untuk kelemahannya, tentunya proses ini memakan waktu lama, melalui banyak kegagalan² yang terkadang tidak dialami oleh yang lainnya.